Feeds:
Posts
Comments

Nama Komunitas kita yang FINAL adalah ‘Komunitas Kita’
Dengan tagline, PENDIDIKAN UNTUK SEMUA.
Dalam hasil polling, di mailist maupun share langsung di Yahoo! Messenger.
Terima Kasih atas partisipasinya, dalam polling.
Tetap SEMANGAT ya teman-teman,…

PENGUMUMAN

Bagi teman-teman yang berdomisili atau (kebetulan sedang ada di Jakarta) hehehe,
Mohon keikutsertaannya, dalam Kopi Darat KOMUNITAS KITA dengan tema ‘REFRESH YOUR SPIRIT’ pada:
Minggu, 22 Februari 2009
Di Monas, jam 9.00 pagi.

Dengan agenda:
• Temu sahabat (Halal Bihalal), kita bias kangen-kangenan deh sama yang lain.
• Perekrutan anggota baru, jadi bagi teman-teman yang hadir jangan sungkan untuk membawa serta teman, kerabat atau saudaranya ya…
• Evaluasi seluruh Program Kerja yang telah maupun akan dilaksanakan dalam waktu yang akan dating.
• Oiya, yang terakhir, jangan lupa bawa majalah atau buku yang masih dapat digunakan untuk bahan bacaan anak-anak berkisar usia SD (Sekolah Dasar).

Untuk konfirmasi dapat menghubungi mas Prapto di 08569812854.

banner

buat temen-temen relawan Komunitas KITA yang memiliki blog, silahkan memasang banner ini:

.komunitas-kita-banner-2.

silahkan copy paste file html dibawah ini:

<a href=”http://www.pendidikanuntuksemua.wordpress.com”><img class=”alignnone size-medium wp-image-525″ title=”komunitas-kita-banner-2″ src=”http://pendidikanuntuksemua.files.wordpress.com/2009/04/komunitas-kita-banner-2.jpg?w=300″ alt=”komunitas-kita-banner-2″ width=”167″ height=”167″ /></a>

terimakasih

Tak hendak meramaikan masalah pro kontra UN (Ujian Nasional), saya ingin berbagi sesuatu tentang apa yang dialami oleh seorang teman. Beliau ini adalah guru di salah satu SMA swasta di Surabaya. Sebut saja nama samarannya adalah Za. Ketika menjadi guru pengawas ujian menjadi rebutan dengan imbalan 110 ribu rupiah hanya dua jam dan dua hari, Za menolaknya. Saya yang belum punya pengalaman dalam hal ini, heran. Mengapa diberi imbalan segitu untuk sebuah kerja yang ringan yaitu menjaga ujian saja tidak mau? Ternyata oh ternyata, ada udang di balik batu pada diri setiap penjaga ujian. Ada sebuah scenario besar yang rapi yang selama ini cuma bisa saya saksikan di TV dalam acara berita tentang kecurangan dalam UN. Za memilih menolak daripada harus melakukan kecurangan sistematis ini.

Di malam menjelang hari terakhir UN SMP, nenek Za sakit keras. Ia harus pulang ke salah satu desa terpencil di salah satu kota kecil di Jawa Timur. Di tengah keperluan menjenguk nenek yang sakit, Za harus menghadapi sesuatu yang dilematis. Bulik Za yang merupakan kepala sekolah salah satu SMP swasta di desa terpencil itu mendatanginya. Si Bulik meminta tolong dengan teramat sangat Za mau membantunya menjawabkan soal UN bahasa Inggris. Padahal aslinya Za ini adalah guru matematika. Tapi demi inginnya anak didiknya lulus semua, bulik yang kepala sekolah ini yakin bahwa meskipun bukan guru bahasa Inggris, Za yang lulusan universitas ternama di Surabaya jurusan Matematika, sanggup mengerjakan soal-soal bahasa Inggris lebih baik daripada dirinya ataupun guru-guru desa lainnya.

Dengan tegas Za menolak. Sungguh, ia tak ingin curang. Ia takut dosa. Ia tak ingin generasi bangsa ini mempunyai mental yang tak sehat. Ia menghargai kejujuran dan kerja keras hasil usaha sendiri. Tapi ketika si Bulik tadi menjelaskan kondisi sebenarnya mengapa ia menghiba-hiba sedemikian rupa, apa yang bias Za lakukan? Si bulik dengan wajah yang hampir mencucurkan airmata menjelaskan kondisi anak-anak SMP itu. Mereka bukanlah anak kota yang harus lulus demi gengsi. Yang harus lulus agar bias masuk SMA favorit. Tapi anak-anak SMP di kota sangat kecil ini, lain. Mereka harus lulus, karena taruhannya adalah sesuap nasi jenis apakah yang akan mereka makan esok hari. tak peduli apa pun taruhannya meskipun harus dengan kecurangan. Mereka butuh selembar ijazah. Bukan untuk masuk SMA faforit sebagaimana siswa SMP di kota. Bukan pula demi gengsi karena malu bias sampai tak lulus dan harus mengulang satu tahun atau mengambil kejar paket C. Bukan itu semua. Tapi selembar ijazah SMP agar bias diterima kerja di pabrik. Dan itu artinya satu langkah yang sangat kecil untuk sedikit saja bias keluar dari kemiskinan yang telah menjerat hidup begitu lama. Yah…selembarf ijazah hanya agar bias kerja pabrik.

Bila tak lulus? Hanya ada satu opsi itu, bukan dua atau tiga sebagaimana anak kota. Satu opsi yang mau tak mau harus diambil itu adalah opsi untuk menjadi buruh tani. Yah…buruh tani yang upahnya tak pernah lebih dari 10ribu satu harinya. Dan itu artinya, kemiskinan akan terus menjerat kehidupan mereka tanpa ada kemungknan untuk bias terentaskan. Tak ada kata mengulang karena membayar SPP sebesar 7ribu rupiah sebulan itu sudah amat sangat berat bagi mereka. Apalagi untuk kejar paket C, tak akan pernah mampu mereka membayarnya. Bila tak lulus UN kali ini, mereka harus keluar sekolah dan harus puas dengan ajazah SD untuk menjadi buruh tani. Itu artinya kerja keras mereka sekolah selama tiga tahun sia-sia belaka. Nasib mereka ditentukan oleh lulus tidaknya UN yang Cuma 3 hari itu.

Za galau. Za seperti dihadapkan pada buah simalakama. Semua opsi yang dihadapakan padanya sungguh opsi yang mematikan. Dengan mengambil nafas panjang dan beristighfar sepnajang ‘pembantuan’ itu, Za mengerjakan soal UN bahasa Inggris dalam waktu yang tak lebih dari sepuluh menit. Dan sungguh, binary terima kasih dari si Bulik yang gajinya sebulan hanya 35ribu rupiah itu, tak akan pernah terlupakan seumur hidupnya.

Salahkah Za? Berdosakah Za? Muliakah mereka para guru yang tergabung dalam airmata guru ketika kecurangan dilaporkan? Hinakah mereka para guru dan murid yang menghalalkan segala cara agar lulus UN?

Menjawab pertanyaan ini seperti menjawab ‘duluan mana antara telur dan anak ayam?’ Tak ada ujung pangkalnya. Seperti mengurai benang kusut. Seperti berusaha keluar dari lingkaran setan.

Saya tak hendak mengulas system UN, pendidikan Indonesia, kesejahteraan guru dan tersedianya fasilitas dan apa pun itu namanya. Tidak. Sudah cukup banyak itu dibahas di Koran-koran nasional kita. News dot com dengan Imam Prasojo sebagai bintang tamu juga sudah mengulas dengan cukup bagus. Saya tak hendak sok tahu untuk memberi solusi karena sesungguhnya masyarakat kita sudah tahu solusi itu.

Saya hanya ingin bernostalgia sedikit pada sebuah jaman di mana tak ada anak bangsa yang terdholimi dlam haknya mendapat pendidikan. Sebuah jaman di mana tak ada UN, tak ada jenjang umur yang menjadi jerat kreatifitas, tak ada aral bernama uang dan kemiskinan sehingga yang kaya saja yang bias sekolah, tak ada pula apa itu namanya bisnis sekolah.

Yang ada adalah setiap anak berhak memilih mata pelajaran apa yang disukainya dan ia bias kapan saja naik tingkat bila kecapakan mencukupi tanpa harus menunggu umur sekian untuk belajar topic tertentu. Ia tak harus pusing berpikir biaya sekolah ketika gaji guru dijamin sepenuhnya oleh Negara. Jangankan professor, gaji guru TK saja bias mencapai 15 juta rupiah dan ditanggung semua keperluan hidupnya. Para penulis yang di jaman ini dicekik pajak sekian persen, di jaman itu malah dihadiahi emas seberat buku yang ditulisnya.

Ah…tak hendak saya hanya bias bernostalgila dengan masa-masa indah nan keemasan itu. Saatnya ambil bagian untuk mengembalikan masa-masa kejayaan dimana ilmu pengetahuan dihargai sepatutnya. Ayo Berjuang, mengembalikan system indah itu di tengah-tengah kita. Ataukah, kita cukup puas hanya menjadi penonton di pinggir dan menjadi pecundang sejarah? Hmm…anda sendirilah yang bisa menjawabnya.

By. Ria Fariana riafariana@gmail.com

Tentang Komunitas

visi1

komunitas ini bertujuan untuk menyelenggarakan pendidikan

bagi masyarakat terutama anak usia sekolah yang belum

memiliki kesempatan mengenyam pendidikan,

belum di berikan fasilitas pendidikan oleh pemerintah

ataupun instansi pendidikan lainnya.


misi1

komunitas ini memiliki misi untuk:

1. menyelenggarakan pendidikan; meliputi kegiatan pengajaran,

pelatihan, penyiapan piranti ajar dan semua pendukungnya.

2. memetakan kebutuhan pendidikan di masyarakat terutama

bagi yang belum mendapatkannya.

3. memberikan pengawasan kepada institusi pendidikan termasuk

pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan yang baik dan merata.

4. mengusahakan biaya baik secara mandiri maupun donasi

untuk penyelenggaraan pendidikan dan program komunitas.


anggota1

demi efektifitas dan maksimalnya kinerja komunitas,

maka kami memberikan persyaratan bagi calon

anggota komunitas sebagai berikut:

1. keanggotaan bersifat individu; setiap orang yang ingin menjadi anggota

….tidak mengatasnamakan lembaga/ golongan/ yayasan/ partai atau

….kelompok apapun.

2. memiliki visi dan misi yang sama.

3. memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan.

4. tidak menggunakan nama komunitas untuk kepentingan pribadi/

….lembaga/ yayasan/ atau kelompok di luar komunitas.

5. mengirimkan data pribadi / CV ke email

….pendidikanuntuksemua@yahoo.com


pengurus11

bagan-komunitas

sesuai hasil musyawarah tanggal 2 November 2008 di Monas,

memutuskan bahwa:

Ketua

Aldo Silvado

Wakil Ketua

S Lainin Nafis <bejo>

Sekretaris

Fifi Safinah

Bendahara

Anata Mc Auliffe

Bidang Pendidikan

Kamaluddin Musthofa (kord.)

Bagus

Prapto

Fitri KJ

Astuti

Cie-cie

Bidang Litbang

A. Adip Wahyudi <genk> (kord.)

Nurin

Johannes

Farma Heveanty <bunda cevi>

Bidang Humas

Norma Azwier (kord.)

Goenza Lytha

Nia Rosalina

Bidang Survey

Miftahul Bari (kord.)

Romdhan Sindu

masa kerja kepengurusan ini berlaku selama satu tahun, terhitung sejak

tanggal 2 November 2008 setiap anggota baru akan di salurkan ke

bidang-bidang yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.


donasi1

kami memberikan kesempatan bagi anda siapa saja untuk ikut membantu

membiayai penyelenggaraan pendidikan dan program komunitas kami

dalam bentuk buku / dana / fasilitas atau apapun juga demi kelancaran

pengembangan pendidikan di Indonesia.

syarat memberikan bantuan;

1. bantuan pendidikan yang diberikan melalui kami tidak bersifat mengikat.

2. pemberi dana tidak memiliki kepentingan atau motivasi yang tidak sesuai

….dengan visi dan misi kami.

3. bantuan berupa uang dikirimkan hanya kepada dan melalui rekening

….bendahara kami saudari Anata Mc Auliffe nomor telepon 08568406343.

4. bantuan berupa buku atau piranti ajar lainnya bisa menghubungi

….Aldo Silvado   08121115967    Rawasari

….Lainin Nafis   021 92717282   Ciputat

….Fifi Safinah    021 99387033   Kebayoran

5. kami melarang pihak manapun yang tidak kami tunjuk untuk menerima

….bantuan pendidikan dengan mengatas namakan komunitas kami.

Tulisan

tuliskan opini, pengalaman atau keprihatinan anda tentang pendidikan di sekitar anda

kirimkan ke pendidikanuntuksemua@yahoo.com

tulisan yang sudah ada:

1. aku adalah orang yang egois

2. kenapa kita harus sekolah?

3. Indonesia Book Fair 2008

4. Rumah Srikandi

5. mahalnya pendidikan

6. anda dapat membuat perbedaan …

7. pendidikan seumur hidup

8. surat dari bang Aio

9. Scope Indonesia 2008, antara kesempurnaan dan pemerataan

Indonesia’s first Exhibition for International, National Plus & Preschool digelar di Jakarta Convention Center 5-7 Desember 2008.

pameran yang melibatkan lebih dari 30 institusi pendidikan baik lokal maupun international ini menawarkan sistem pendidikan modern yang di klaim paling efektif dalam meningkatkan potensi anak, ditambah lagi sistem yang ditawarkan setiap institusi tersebut mampu menemukan bakat alamiah setiap siswa dan kemudian mengembangkannya secara maksimal. hal ini tentu saja bukan omong kosong belaka, segala demonstrasi aktivitas belajar anak pun disajikan mulai dari menggambar, membuat sebuah karya hingga mengajari pengunjung — yang kebanyakan ibu-ibu –  menjalankan sebuah program komputer berbasis design grafis. tentu saja hal ini mengundang decak kagum dan tepuk tangan setiap orang tua yang menonton aksi anak-anak kelas 1 sampai kelas 6 sebuah institusi peserta pameran itu.

bahkan untuk zaman yang bisa dikatakan multi modern ini, seorang bayi berusia 6 bulan pun sudah bisa di sekolahkan.

harus di acungi jempol bahwa sebuah era pendidikan baru sudah mulai dirambah. sistem pendidikan yang mulai melibatkan emosi anak dalam proses pengajarannya; tidak seperti yang selama ini terjadi bahwa yang namanya sekolah harus formal, seragam, kaku dan setiap siswa harus duduk diam mendengarkan sang guru bercerita dan akhirnya siswa mengenal  bahwa kebenaran mutlak ada ditangan guru.

namun seiring dengan penggunaan sistem pendidikan yang lebih modern dan baru ini, biaya pendidikan juga memasuki tingkatan barunya sendiri sehingga sistem pendidikan baru tersebut tetap bahkan menjadi semakin tidak terjangkau oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. sebuah institusi peserta pameran ini misalnya mematok hingga 1.200.000,- rupiah/paket untuk biaya pendidikan bayi usia enam bulan hingga 2 tahun. pada institusi yang sama pula, biaya pendidikan mencapai di atas 20 juta hingga 50 juta untuk anak usia antara 4 hingga 12 tahun.

orang tua mana yang tidak hendak memberikan yang terbaik kalau menyangkut pendidikan anaknya?

pertanyaan tersebut yang akhirnya menyuburkan kondisi mahalnya dunia pendidikan di Indonesia.

pertanyaan tersebut pulalah yang membuat para pakar pendidikan terus dan terus mencoba mencari sistem pendidikan yang di anggap paling sempurna.

namun apakah biaya pendidikan tersebut realistis jika dibandingkan kehidupan puluhan juta masyarakat Indonesia?

pertanyaan kedua ini membuat kita mundur sedikit ke belakang, melebarkan pandangan ke sekitar kita.  melihat lebih jauh dan luas sampai dimana pendidikan yang cukup dan layak menjangkau masyarakat Indonesia. apakah — seperti yang dituliskan di Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia — bahwa pendidikan yang layak sudah diberikan kepada setiap warga negara?

belum sampai kita menanyakan apakah sistem pendidikan di Indonesia sudah sempurna, kita sudah dibuat terpana melihat realitas yang ada. adanya perbedaan penerapan kurikulum dari sebuah sekolah dengan sekolah yang lain hanyalah faktor kecil yang membedakannya. sekolah-sekolah di kota besar khususnya Jakarta tentu saja memiliki fasilitas yang berbeda dengan sekolah-sekolah di daerah lain. tentu saja seharusnya ini menjadi sebuah ketidakadilan ketika semua sekolah yang memiliki fasilitas dan kurikulum yang berbeda tersebut di nilai dengan satu standard Ujian Nasional.

belum lagi masih banyak orang tua yang memilih tidak menyekolahkan anaknya karena untuk menghidupi keperluan sehari-hari saja merupakan sebuah usaha yang luar biasa kerasnya. apalagi sampai mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah demi mendapatkan sistem pendidikan yang paling modern untuk anak mereka.

harusnya, setiap anak Indonesia — tanpa melihat apa dan siapa orang tua mereka — mendapatkan kesempatan belajar yang layak. harusnya sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memeratakan kesempatan mengenyam pendidikan bagi seluruh warganya. itu dulu! baru kemudian mulai memikirkan cara untuk menyempurnakan sistemnya. sebab jika tidak, maka pendidikan akan semakin tidak terjangkau karena mahalnya, dan tentu saja tidak akan merata. [ ]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.